
ribuan jiwa ditelan
seluruhnya ditenggelamkan
Semakin gawat dan menjadi-jadi. Bencana yang melanda dunia masih belum terlihat tanda-tanda mereda. Setelah tsunami, gempa bumi, ledakan gunung berapi, banjir, badai, lumpur Sidoarjo (lumpur Lapindo), yang sehingga kini masih tidak mampu ditangani dan berbagai bencana lain yang memusnahkan. Entah sudah berapa ratus ribu nyawa melayang tanpa diduga. Hasilan manusia, tanaman, ternakan serta bangunan sudah tidak terhitung lagi jumlah dan nilainya. Terakhir, selepas beberapa siri tsunami, banjir lumpur di Sidoarjo, Lapindo, banjir besar di Pakistan dan China, meletus pula gunung berapi di Jawa Tengah. Ledakannya mempamerkan kekuatan yang bukan kepalang, kekuatan yang Tuhan berikan kepadanya.
Semua kejadian yang tersebut menjadikan manusia memberikan reaksi yang berbagai. Sebahagiannya semakin gelisah dan cemas. Diselubungi perasaan bimbang yang bukan calang-calang. Manakala sebahagian lagi tidak merasa apa-apa. Bagi mereka, semua yang berlaku itu hanyalah siri-siri bencana 'alam. Tidak ada apa yang perlu difikirkan, apatah lagi perlu merunsingkan fikiran.
Namun tampaknya siri malapetaka itu hanyalah sebahagian dari keseluruhan alam yang terlihat jelas sudah tidak ingin bersahabat dengan kita. Sebagian manusia berujar dengan kalimah “Bumi sedang marah” atau “Alam murka”. Padahal mereka sadar, bahwa alam semesta raya ini sepenuhnya tunduk patuh kepada Sang Pencipta. Langit dan bumi beserta seluruh isinya, sebenarnya tidak memiliki sedikit pun kekuatan melainkan atas kehendak dan izin Tuan yang mengatur mereka setiap detik dan ketika. Jika alam ini tidak memiliki kuasa barang sedikitpun, lalu siapa sebenarnya yang murka? Pastinya Allah, Tuhan yang Maha Pemurah dan Penyayang. Bahkan ketika Dia murka kepada manusia, sebenarnya ada kasih sayangNya kepada kita.
Hakikatnya, yakinlah disebalik semuanya itu ada peringatan dan didikan untuk kita, samada kita ingin kembali ingat kepada-Nya, taat dan patuh kepada-Nya, atau sebaliknya. Melalui setiap fenomena di alam raya ini, Allah sedang berkata-kata kepada kita. Mampukah kita mendengar kata-kataNya? Dan yang lebih penting lagi, mahukah kita mendengar kata-kataNya? Jika kita tidak mahu, maka inilah sebenarnya sumber lahirnya malapekata. Keenganan dan ketidakpedulian inilah sebenarnya yang mungkin menjadi sebab mengapa sekian banyak bencana terus terjadi dan masih enggan berhenti.
Padahal Allah telah berjanji dalam Surah Al-A'raaf : 96
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkatan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Ataukah kita hanya akan mendengar dan cuba memahami kata-kataNya, ketika sudah tibanya qiamat...?
Pendengaran dan pemahaman yang sudah tidak berguna.....
No comments:
Post a Comment